Kamis, 20 Mei 2010

“PERILAKU MENYIMPANG / KENAKALAN PADA REMAJA”

Diposting oleh Ayax_Queen (Farah Najat Izzaty) di 00.07
Reaksi: 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Keyakinan agama adalah kepercayaan atas doktrin teologis, seperti percaya terhadap adanya Tuhan, malaikat, hari akhirat, surga, neraka, takdir,dll. lbadat adalah cara melakukan penyembahan kepada Tuhan dengan segala rangkaiannya.
Pengetahuan agama adalah pengetahuan tentang ajaran agama meliputi berbagai dimensi. Pengalaman agama adalah perasaan yang dialami oleh orang beragama, seperti rasa tenang, tenteram, bahagia, syukur, patuh, taat, takut, menyesal, bertobat, dll
Sikap keagamaan merupakan perwujudan dari pengalaman dan penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan bathin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya.
Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi (pengetahuan), afeksi (penghayatan) dan konasi (perilaku) terhadap agama pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada seseorang.
Sikap keagamaan sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan berupa fithrah beragama; dimana manusia punya naluri untuk hidup beragama, dan faktor luar diri individu, berupa bimbingan dan pengembangan hidup beragama dari lingkungannya. Kedua factor tersebut berefek pada lahirnya pengaruh psikologis pada manusia berupa rasa takut, rasa ketergantungan, rasa bersalah, dan sebagainya yang menyebabkan lahirnya keyakinan pada manusia. Selanjutnya dari keyakinan tersebut, lahirlah pola tingkah laku untuk taat pada norma dan pranata keagamaan dan bahkan menciptakan norma dan pranata keagamaan tertentu.
Masa remaja adalah masa peralihan, masa yang penuh kegoncangan, masa yang berada dalam pengalihan, dimana pada masa ini sangatlah sulit untuk mengambil keputusan, dan sulit untuk memilah-milih hal yang baik atau yang buruk pada dirinya sendiri, karena pada masa ini sangatlah penuh kebimbangan antara mendengarkan orang lain atau menuruti kemauannya sendiri. Oleh karena itu, seringlah pada masa remaja ini terdapat salah mengambil keputusan, yang akhirnya terjerumus pada perilaku-perilaku yang menyimpang.
Sedangkan dalam kehidupan, sering ditemui perilaku/ sikap keagamaan yang menyimpang, umumnya pada masa remaja atau masa pematangan, seperti: Remaja dan Narkoba, Perkelahian Pelajar, Perilaku Seksual di luar Nikah. Maka dalam makalah ini dengan kajian psikologis, akan dibahas tentang hal tersebut, dengan landasan teori, berikut dengan jenis-jenis dan penyebab / faktornya, yang diharapkan pula dari sini dapat digali berbagai alternatif yang dimungkinkan untuk menghindari penyimpangan tingkah laku keagamaan tersebut.


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka pembahasan makalah ini akan difokuskan pada masalah-masalah sebagai berikut:
1. Pengertian serta landasan teori psikologis mengenai perilaku menyimpang keagamaan pada remaja.
2. Jenis dan faktor perilaku menyimpang keagamaan pada remaja.
3. Alternative untuk menghindari perilaku menyimpang keagamaan pada remaja.

1.3 Tujuan
Berdasarkan Rumusan Masalah di atas, maka diperoleh tujuan sebagai berikut:
1. Memahami pengertian serta landasan teori penyimpangan perilaku keagamaan secara psikologis pada remaja.
2. Mengetahui beberapa jenis dan factor terjadinya perilaku menyimpang/ kenakalan remaja.
3. Mengetahui alternative untuk menghindari perilaku menyimpang keagamaan pada remaja.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perilaku Menyimpang
 Beberapa pengertian perilaku menyimpang menurut beberapa tokoh :
ψ James Vander Zander
Merupakan perilaku yg dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
ψ Paul B.Horton
Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
ψ Bruce J.Cohen
Merupakan setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
Dari beberapa definisi di atas, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang tersebut. Penyimpangan sikap keagamaan, ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang ( tingkat fikir materialistik dan tingkat fikir transendental relegius ), sehingga akan mendatangkan kepercayaan/ keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok). Jika keyakinan itu bertentangan atau tidak sejalan dengan keyakinan ajaran agama tertentu, maka akan terjadi sikap keagamaan yang menyimpang.


• Tugas-tugas perkembangan remaja
Penyimpangan perilaku keagamaan kebanyakan terjadi pada remaja, karena masa remaja merupakan masa yang penuh kegoncangan jiwa, masa dalam peralihan yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh kebergantungan, dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri.
Oleh karena itu, dalam rangka pembimbingan dan penyuluhan pada remaja, Robert Y. Havighurst dalam bukunya Human Development and Education menyebutkan adanya sepuluh tugas perkembangan yang harus diketahui oleh remaja, yaitu:
1. Mencapai hubungan sosial yang matang dengan teman-teman sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis ataupun dengan jenis kelamin lain. Agar mereka dapat bekerja sama dengan orang lain dengan tujuan-tujuan bersama, dapat menahan dan mengendalikan perasaan-perasaan pribadi, dan belajar memimpin orang lain dengan atau tanpa dominasi.
2. Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut kelamin masing-masing. Artinya mempelajari dan menerima perenan masing-masing sesuai dengan ketantuan-ketentuan/ norma-norma masyarakat.
3. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakan seefektif-efektifnya dengan perasaan puas.
4. Mencapai kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya, ia tidak kekanak-kanakan lagi, yang selalu pada orang tuanya. Ia membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap orang tua atau orang lain.
5. Mencapai kebebasan ekonomi. Ia merasa sanggup untuk hidup berdasarkan usaha sendiri. ini terutama sangat penting bagi anak laki-laki. Akn tetapi, dewasaini kaum wanita pun tugas ini berangsur-angsur menjadi tambah penting.
6. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan, artinya belajar memilih satu pekerjaan sesuai dengan dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan tersebut.
7. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup berumah tangga. Mengembangkan sikap yang positiv terhadap kehidupan keluarga dan memiliki anak. Bagi wanita hal ini harus dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan bagaimana mengurus rumah tangga (home management) dan mendidik anak.
8. Mengembangkan kecakapan intellektual serta konsep-konsep yang diperlukan untuk kepentingan hidup bermasyarakat, maksudnya ialah, bahwa untuk menjadi warga negara yang baik perlu memiliki pengetahuan tentang hukum, pemerintah, ekonomi, politik geografi, tentang hakikat manusia dan lembaga-lembaga kemasyarakatan.
9. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung jawabkan. Artinya, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta mentaati nilai-nilai sosial yang berlaku dalam lingkungannya, baik regional maupun nasional.
10. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman dalam tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidup. Norma-norma tersebut secara sadar dikembangkan dan direalisasikan dalam menetapkan kedudukan manusia dalam hubungannya dengan sang pencipta, alam semesta dan dalam hubungannya dengan manusia-manusia lain; membentuk suatu gambaran dunia dan memelihara harmoni antara nilai-nilai pribadi yang lain.
Dari sepuluh tugas perkembangan ini, dapatlah terlihat hubungan yang cukup erat antara lingkungan kehidupan sosial dan tugas-tugas yang harus diselesaikan si remaja dalam hidup. Hal ini merupakan fondasi supaya mereka dapat hidup dalam masyarakat.
 Landasan Teori psikologi tentang penyimpangan perilaku pada remaja
Teori psikologis bertumpang tindih dengan teori biologis. Teori ini berpendapat bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku menyimpang karena perilaku menyimpang seringkali dianggap sebagai suatu gejala penyakit mental. Selanjutnya perilaku menyimpang seringkali dikaitkan dengan penyakit mental. Namun demikian teori psikologis tidak dapat memberikan banyak bantuan untuk menjelaskan penyebab perilaku menyimpang.
ψ Menurut Sigmund freud
Teori freud,merupakan ilmuwan yg terkenal di bidang ini.Sigmund freud membagi diri manusia menjadi tiga bagian penting,yaitu:
• ID, bagian diri yg bersifat tidak sadar,naluriah dan impulsif (mudah terpengaruh oleh gerak hati).
• EGO, bagian diri yg bersifat sadar dan rasional (penjaga pintu kepribadian).
• SUPER EGO ,bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai kultural dan berfungsi sebagai suara hati.
Menurut FREUD, perilaku menyimpang terjadi apabila id yang berlebihan (tidak terkontrol) muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang sama ego yang seharusnya dominan tidak berhasil memberikan perimbangan. Jika seseorang yang sadar sedang lapar dan membutuhkan makanan, maka id-nya akan memerintahkan agar kebutuhan ini segera di penuhi dengan menggunakan cara-cara apapun. Kalau ternyata “superego-nya” benar-benar lemah dan tidak dapat mengendalikan id-nya, orang tersebut mungkin akan memasuki sebuah restotan atau rumah makan dan merampas makanan di atas meja. Dalam kasus ini, ego tidak memperingatkan bahaya yang mungkin terjadi. Superego juga tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Superego tidak memberi isyarat bahwa perbuatan ini adalah jenis perilaku yang tidak bisa di terima.
ψ Menurut W. Starbuck
W. Starbuck mengambil sampel terhadap mahasiswa middle burg collage, yang tesimpul bahwa: remaja usia 11 – 26 tahun terdapat: 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang mereka terima, cara penerapan, keadaan lembaga keagamaan dan para pemuka agama. Hal yang serupa ketika diteliti terhadap 95 mahasiswa maka 75% diantaranya mengalami seperti itu.
Dari analisa hasil penelitiannya, W. Starbuck menemukan penyebab timbulnya keraguan itu antara lain:
1. Kepribadian yang menyangkut salah tafsir dan kelmain.
a. Bagi seseorang yang memeliki kepribadian introvert, makakegagalan dalm mendapatkan pertolongan tuhan akan menyababkansalah tafsir akan sifat tuhan yang maha pengasih dan penyayang.
b. Perbedaan kelamin dan kematangan merupakan pula factor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang dalam perkembangannya lebih cepat menunjukkan keraguan dari pada remaja pria, tetapi sebaliknya dalam kualitas dan kuantitas keraguan remaja putri lebih rendah jumlahnya. Disamping itu keraguan wanita lebih bersifat alami sedangkan pria bersifat intellek.
2. Kesalahan organisasi keagamaan dan pemuka agama.
3. Pernyataan kebutuhan manusia. Adanya perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang dimlikinya, maka akan timbul keraguan.
4. Kebiasaan. Keraguan yang ditimbulkan dikarenakan melihat perbedaan agama lain.
5. Pendidikan. Berdasarkan pengetahuan yang dimiliki seseorang, maka akan membawa pengaruh sikapnya terhadap ajaran agama yang dimilkinya.
6. Pencampur adukan antara agama dan mistik. Para remaja merasa ragu untuk menentukan antara unsure agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopangi oleh praktek kebatinan dan mistik. Penyatuan unsure ini merupakan suatu dilemma yang kabur bagi para remaja.
Dengan adanya keraguan ini maka akan menjurus ke arah konflik dalam diri para remaja sehingga mereka dihadapkan kepada masalah pemilihan antara baik dan yang buruk dan antara yang benar dan yang salah.
Beberapa macam konflik diantaranya adalah
a. Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu.
b. Konflik yang terjadi antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.
c. Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau skularisme.
d. Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk ilahi.
2.2 Jenis-jenis bentuk dan penyebab terjadinya penyimpangan perilaku keagamaan
 Jenis-Jenis Perilaku Menyimpang
1. Penyimpangan Sosial Primer
Merupakan penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Misalnya pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas, meminum minuman keras di suatu pesta.
2. Penyimpangan Sosial Sekunder
Merupakan penyimpangan sosial yang terjadi secara terus-menerus, meskipun sanksi telah diberikan kepadanya, sehingga pelakunya secara umum dikenal sebagai orang yang berprilaku menyimpang. Misalnya seorang mahasiswa yang terus-meners mencontek ketika UTS maupun UAS.
3. Penyimpangan Individu
Penyimpangan dilakukan sendiri tanpa campur tangan orang lain.
4. Penyimpangan Kelompok
Penyimpangan kelompok terjadi apabila perilaku dilakukan bersama-sama dalam kelompok tertentu.
Contoh:
^ Kelompok atau gang kejahatan yang terorganisir melakukan penyelundupan dan perampokan.
^ Kelompok pengacau keamanan dengan tujuan-tujuan tertentu (teroris).
^ Kelompok yang ingin memisahkan diri dari suatu negara (separatis).
 Bentuk-bentuk Perilaku Penyimpangan
ψ Remaja dan Narkoba
Kelompok remaja adalah kelompok masyarakat yang sangat peka terhadap bahaya penyalah gunaan narkoba. Alasannya karena pada usia ini remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cenderung akan mencoba menggunakan. Alasan dan dampak negatif, berdasarkan pengamatan ada beberapa alasan orang menggunakan obat-obatan tersebut, yaitu mengurangi atau menghilangkan rasa takut, menghilangkan rasa malu, ingin melupakan kesulitan hidup sehari-hari, dan ada pula kelompok orang yang hanya sekedar ikut-ikutan. Penyimpangan narkoba dapat memicu tindakan menyimpang lainnya, seperti mencuri, membunuh, perbuatan asusila, dan yang terpenting adalah hilangnya kesempatan untuk mengisi hidupnya dengan aktivitas yang bermanfaat.
ψ Perkelahian Pelajar
Pada umumnya tawuran di awali oleh konflik yang terjadi antara siswa di dalam satu sekolah atau siswa antar sekolah. Karena perasaan solidaritas antar siswa di dalam sekolah masing-masing, perkelahian akan meluas dan menghasilkan konflik antar siswa dari sekolah yang berlainan. Tawuran mendatangkan bentuk penyimpangan dan bahkan pembunuhan yang sadis.
ψ Perilaku Seksual di luar Nikah
Naluri seksual yang tidak terkendali atau dilakukan tanpa aturan akan mendatangkan kekacauan di masyarakat, antara lain adalah terjangkitnya penyakit kelamin, perkelahian, dan kesulitan menentukan orang tua biologis dari anak-anak yang dilahirkan. Selain itu, terjadi pula ancaman yang serius terhadap bayi-bayi yang dilahirkan sehingga berdampak pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM), seperti aborsi dan pembunuhkan bayi-bayi yang lahir dari hubungan yang bebas tersebut.
ψ Norma hubungan Seksual
Hubungan seksual di luar pernikahan dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap norma. Pada setiap keabsahan hubungan seksual di buat melalui pernikahan.
ψ Remaja perlu waspada
Di kalangan remaja yang kurang mandapatkan moral dan agama yang kuat , kurangnya pemberian kasih sayang yang seutuhnya dari kedua orang tua, serta tidak mempertimbangkan akibat-akibat negatif penyimpangan seksual akan mendatangkan bencana bagi dirinya. Bila terjadi perilaku seksual di luar nikah, berbagai penyakit mulai menyebar, seperti penyakit kelamin dan AIDS.
Jadi banyak sekali contoh-contoh dari perilaku menyimpang di kehidupan sekitar. Kita sebagai manusia yang memiliki akal harus bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak. Perlu pembekalan mental yang kuat bagi individu terutama para remaja agar tidak terjerumus dalam penyimpangan tersebut. Dengan mental yg kuat individu tidak akan mudah terjerumus dalam penyimpangan tersebut.
 Penyebab / faktor Terjadinya Penyimpangan Sikap Keagamaan
Perubahan sikap keagamaan adalah awal proses terjadinya penyimpangan sikap keagamaan pada seseorang, kelompok atau masyarakat. Perubahan sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan, maka sikap dapat diubah walaupun sulit. Karenanya perubahan sikap dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1) Adanya kemampuan lingkungan merekayasa obyek, sehingga menarik perhatian, memberi pengertian dan akhirnya dapat diterima dan dijadikan sebagai sebuah sikap baru.
2) Terjadinya konversi agama, yakni apabila seseorang menyadari apa yang dilakukannya sebelumnya adalah keliru, maka ia tentu akan mempertimbangkan untuk tetap konsisten dengan sikapnya yang ia sadari keliru. Dan ini memungkinkan seseorang untuk bersikap yang menyimpang dari sikap keagamaan sebelumnya yang ia yakini sebagai suatu kekeliruan tadi.
3) Penyimpangan sikap keagamaan dapat juga disebabkan karena pengaruh status sosial, dimana mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya, karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya.
4) Penyimpangan sikap keagamaan dari sebelumnya, yaitu jika terlihat sikap yang menyimpang dilakukan seseorang (utamanya mereka yang punya pengaruh besar), ternyata dirasakan punya pengaruh sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat, maka akan dimungkinkan terjadinya integritas sosial untuk menampilkan sikap yang sama, walaupun disadari itu merupakan sikap yang menyimpang dari sikap sebelumnya.
2.3 Beberapa solusi Alternative untuk menghindari perilaku menyimpang keagamaan
Untuk mengatasi berbagai masalah ini, berbagai usaha harus dilakukan antara lain:
1. Perlu mengadakan saringan atau seleksi terhadap kebudayaan asing yang masuk, agar unsure-unsur yang negative dapat dihindari.
2. Agar pendidikan agama baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat, di intensifikan supya kehidupan beragama dapat terjamin dan selanjutnya nilai-nilai moral yang baik dapat menjadi bagian dari pribadi bangsa kita. Nilai-nilai moral yang pasti yang terdapat dalam ajaran agama akan memebantu setiap pribadi untuk mendapatkan ketenangan jiwa, sehingga kegairahan untuk membangun itu ada.
3. Agar diadakan pendidkan khusus untuk orang dewasa dlama bidang kesehatan jiwa. Supaya mereka dapat membantu dirinya sendiri dalam mengahadaoi kegoncangan jiwa, atau untuk menghindari terjadinya kegoncangan jiwa serta terciptanya ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya sehari-hari dirumah dan dalam masyarakat.
4. Perlu adanya biro-biro konsultasi untuk membantu orang-orang yang memerlukannya, baik untuk anak da remaja, maupun orang dewasa.
5. Dalam kegiatan pembinaan ini sebaiknya pemerintah dengan wewenang yang ada padanya mengambil tindakan dan langkah-langkah yang tegas dengan mengikuti sertakan semua lembaga, para ulama dan pemimpin masyarakat.

Selian itu altenatif yang juga dapat menghindari terjadinya perilaku menyimpang apabila:
1. sikap keagamaan akan tidak mengalami distorsi, manakala norma/nilai yang melandasi keyakinan yang melahirkan sikap itu mampu menjawab berbagai hal yang menyebabkan terjadinya perubahan/ pergeseran sikap penyimpangan perilaku..
2. Suatu sikap akan tidak bergeser, walau adanya lingkungan merekayasa obyek, untuk menarik perhatian, kalau norma/ nilai yang mendasari keyakinan untuk lahirnya sebuah sikap keagamaan, dapat menampilkan daya tarik lebih besar dari apa yang ditampilkan oleh lingkungan.
3. Kemampuan penyampaian informasi dan komunikator nilai/ norma agama untuk meyakinkan kebenaran agama, dengan dapatnya teruji pada kehidupan, akan menghindarkan terjadinya proses konversi agama pada seseorang.
4. Pentingnya memperhatikan masalah status social dalam kehidupan beragama , adalah hal yang mutlak dilakukan, jika tidak diinginkan adanya mereka yang merubah sikap keagamaan ke arah penyimpangan dari nilai dan norma sebelumnya, karena melihat kemungkinan perbaikan pada status sosialnya.
Hal ini juga telah disampaikan Rasul SAW., bahwa ‘kefakiran dekat dengan kekufuran’ (al Hadits). Dan kekufuran berarti penyimpangan dari sikap sebelumnya. Karenanyanya, juga kehidupan keagamaan juga harus mengedepankan kemaslahatan kehidupan masyarakat.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Analisis Tentang Tema
Masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai dewasa. Perkembangan mental remaja sampai kepada mampu menerima atau menolak ide-ide atau pengertian-pengertian yang abstrak, maka pandangannya terhadap alam dengan segala isi dan peristiwanya berubah, dari mereka mau menerima tanpa pengertian, menjadi menerima dengan penganalisaan. Pengertian remaja tentang pokok-pokok keyakinan dalam agama dipengaruhi oleh perkembangan pikirannya pada umur remaja. Agama remaja adalah hubungan antara dia, tuhan dan alam semesta, yang terjadi dari peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lalu dan yang sedang dialami oleh remaja itu. Atau dengan kata lain bahwa agama remaja adalah hasil dari interaksi antara dia dan lingkungannya. Sedangkan gambarannya tentang tuhan dan sifat-sifatNya, dipengaruhi oleh kondisi perasaan dan sifat remaja itu sendiri.
Sedangkan sikap keagamaan sangat erat hubungannya dengan keyakinan/ kepercayaan. Dan keyakinan merupakan hal yang abstrak dan susah dibuktikan secara empirik, karenanya pengaruh yang ditimbulkannya pun lebih bersifat pengaruh psikologis. Keyakinan itu sendiri merupakan suatu tingkat fikir yang dalam proses berfikir manusia telah menggunakan kepercayaan dan keyakinan ajaran agama sebagai penyempurna proses dan pencapaian kebenaran dan kenyataan yang terdapat di luar jangkauan fikir manusia. Karenanya penyimpangan sikap keagamaan cenderung di dasarkan pada motif yang bersifat emosional yang lebih kuat dan menonjol ketimbang aspek rasional.
Penyimpangan sikap keagamaan, ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang ( tingkat fikir materialistik dan tingkat fikir transendental relegius ), sehingga akan mendatangkan kepercayaan/ keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok). Jika keyakinan itu bertentangan atau tidak sejalan dengan keyakinan ajaran agama tertentu, maka akan terjadi sikap keagamaan yang menyimpang.
Perilaku menyimpang yang dialami oleh remaja karena adanya penyimpangan pada pemikiran, penalaran dan pemahamannya terhadap norma-norma keagamaan yang diterimanya, oleh karena itu perlu diadakan pengarahan bagi para remaja agar pemikiran dan pemahaman yang dimilikinya agar tidak menyimpang dari norma-norma keagamaan.

3.2 Temuan Hasil Analisis
ψ Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa :
1. Penyimpangan sikap keagamaan pada remaja, ditentukan oleh terjadinya penyimpangan pada tingkat fikir seseorang , sehingga akan mendatangkan kepercayaan/ keyakinan baru kepada yang bersangkutan (baik indivual maupun kelompok).
2. Diantara penyebab terjadinya penyimpangan sikap keagamaan, antara lain :
a. Adanya kemampuan lingkungan menarik perhatian
b. Terjadinya konversi agama
c. Karena pengaruh status social
d. Hal-hal yang dinilai sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat
ψ Untuk menghindari terjadinya penyimpangan sikap keagamaan, ada beberapa solusi alternatif, antara lain :
a. Menyajikan agama dengan performa yang senantiasa menarik.
b. Menyajikan agama dalam bentuk sesuatu kebenaran yang tidak pernah bergeser dan senantiasa teruji dan dapat diuji.
c. Mengupayakan pengangkatan status social pengikut suatu agama.
d. Menampilkan nilai/ norma agama dengan mengedepankan apa yang dinilai sangat positif bagi kemaslahatan kehidupan masyarakat.

3.3 Rekomendasi / Saran
Masalah perilaku menyimpang maupun kenakalan remaja merupakan sebagian masalah-masalah social yang dihadapi masyarakat dan sudah lama menjadi bahan pemikiran.
Maka penanggulangan masalah perilaku menyimpang maupun kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha harus ditunjukan kearah tercapainya kepribadian yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan menjadi orang dewasa yang berkepribadian kuat, sehat jasmani, rohani, kuat iman sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.
Dari sekian banyaknya contoh-contoh dari perilaku menyimpang di kehidupan sekitar. Kita sebagai manusia yang memiliki akal harus bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak. Perlu pembekalan mental yang kuat bagi individu terutama para remaja agar tidak terjerumus dalam penyimpangan tersebut. Dengan mental yg kuat individu tidak akan mudah terjerumus dalam penyimpangan tersebut

0 komentar:

Posting Komentar

 

bLoG 'na AyaX Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review