Minggu, 03 Februari 2013

"Aku Ikhlas Nikahkan Suamiku Dengan Wanita Lain"

Diposting oleh Ayax_Queen (Farah Najat Izzaty) di 19.54
Reaksi: 
Bismillahir-Rah maanir-Rahim ... Niatku sudah bulat. Aku akan carikan wanita lain buat suamiku. Suamiku tercinta, aku mencintainya karena Allah. Mudah-mudahan niatku di ridhoi oleh Allah. Dan keikhlasanku tidak di salah artikan oleh suamiku.

Mencintai suamiku karena Allah adalah keindahan yang agung. Semoga suamiku pun seperti itu, mencintaiku karena Allah. Bukan mencintai karena paras dan tubuhku semata. Atau perasaan gila cinta karena nafsu yang tak bisa kami jaga.

Seperti bunga mawar yang tumbuh dihalaman rumah. Aku selalu merawat dan menjaga cintaku. Memupuki agar selalu terlihat sedap dipandang mata. Hari demi hari selalu terbaharui perasaan cinta pada suamiku.

Bahtera rumah tangga yang telah kami arungi bersama telah membuahkan dua buah hati kami. Secara ekonomi awalnya, kami hidup pas-pas an. Suamiku berdagang buku-buku agama dan obat-obatan herbal secara keliling. Berkat keuletan dan bakat dagangnya, akhirnya kami bisa mengontrak sebuah kios sederhana yang disulap menjadi toko buku dan obat-obatan herbal ditambah dengan pakaian muslim, barang titipan dari beberapa ibu-ibu teman pengajianku.

Alhamdulillah. Dalam kesederhanaan cinta kami tumbuh mekar. Seiring dengan kemajuan usaha kami, cinta kami pun semakin tercium harumnya. Aku tambah sayang pada suamiku. Dan aku selalu berdo’a pada Allah agar begitu juga perasaan suamiku padaku.

Sekarang usaha suamiku semakin berkembang. Usaha yang awalnya coba-coba, malah menjadi bisnis utama keluarga kami. Membuat pesanan kubah mesjid dengan bermacam model untuk dikirim ke berbagai daerah. Pesanan semakin membanjir wal hasil rejeki kami pun berlimpah. Suamiku lebih sering berkeliling ke berbagai daerah di nusantara apabila banyak pesanan.

Kasihan suamiku. Pulang dari daerah sudah langsung ke bengkel las, mengontrol para pekerja agar kubah yang dibuat sesuai dengan pesanan baik ukuran, bahan maupun modelnya. Suamiku tidak ingin mengecewakan pelanggan.

Keinginan untuk menikahkan suamiku dengan wanita lain, mulanya tidak ditanggapi serius olehnya. Dipikirnya aku cuma cari perhatian saja. Demi Allah, niatku ikhlas. Ikhlas lahir dan batin. Karena bagiku mencintai bukan berarti memiliki atau menguasai. Mencintai adalah memberi. Memberi kebahagiaan pada suamiku itu lebih penting dari pada hanya mengurusi perasaanku saja. Apakah aku tidak mempunyai rasa cemburu?. Wanita mana sih yang tidak punya rasa cemburu?. Aku mencintainya karena Allah, aku lawan rasa cemburuku dengan banyak bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk menjadi istri dari suami yang baik, sayang dan bertanggung jawab seperti Abi.

“Bi, Umi ikhlas kok.” Kataku pada saat suamiku di rumah.
“Kalau memang ada yang Abi suka, sebutkan saja orangnya, nanti akan aku lamarkan.”

“Umi, ini bicara apa sih?.” Kata suamiku mencoba untuk “tidak paham” apa yang ku bicarakan.

“Umi kasihan sama Abi, kerja diluar kota sampai beberapa hari, pindah dari satu kota ke kota yang lain.”

“Terus?.” Tanya suamiku mengancingkan baju koko nya.

“Bukankah poligami itu tidak dilarang oleh agama kita, Bi?.”

“Dan Umi rasa secara ekonomi, Insya Allah Abi sekarang lebih siap.”

Suamiku diam saja. Mematut diri di kaca rias, merapikan dandanannya sebelum berangkat ke mesjid.

“Umi pikir lebih baik Abi beristri lagi. Di daerah dimana Abi akan menetap lama disana dan ada orang yang akan merawat dan melayani Abi dengan penuh kasih sayang.”

“Dari pada … .”
“Dari pada apa, Mi?.”

“Ah, namanya juga laki-laki… dari pada fitnah. Di tempat yang jauh dari rumah kemudian Abi dekat dengan wanita lain yang bukan haknya. Itu yang Umi khawatirkan, Bi. Kalau sampai itu terjadi, rasanya Umi pun punya andil dalam perbuatan dosa itu.”

“Insya Allah tidak, Mi. Hanya Umi dan anak-anak yang selalu terbayang kalau Abi jauh dari rumah.”

“Bukankah mencegah itu akan lebih baik, Bi, siapa sih yang tahu persis kondisi keimanan kita?. Besok atau lusa nanti, apakah iman kita dalam keteguhan?. Namanya juga manusia, Abi pun pasti punya kelemahan dan keterbatasan.” Kataku memberi saran.

“Kalau memang ada wanita lain yang sreg di hati Abi, entah itu teman bisnis Abi atau familinya kenalan Abi atau anak gadisnya teman bisnis Abi, perawan atau janda asal seiman. Umi akan lamarkan buat Abi.”

“Bagaimana, Bi?.” Tanyaku mendesak.

“Allahu Akbar…. Allahu Akbar.” Suara Adzan maghrib terdengar dari masjid.

“Sudah maghrib, Mi… Abi ke mesjid dulu ya.” Kata suamiku sambil ngeloyor pergi.

Selesai Adzan, aku pun sholat maghrib di rumah. Selesai sholat aku pun berdo’a ; Ya Allah, kuatkan niatku, lapangkan hatiku, hilangkan rasa cemburuku, gantikan dengan rasa ikhlas dan mahabbah kepada-Mu. Berikan suamiku jodoh wanita solehah, yang baik dan sayang serta tulus merawat dan melayani suamiku.”

Selesai sholat, aku pun menyiapkan makan buat suami dan anak-anakku. Sudah mau masuk waktu isya, suamiku belum balik dari mesjid. Mungkin ia ada di mesjid sekalian sholat isya, seperti kebiasaan yang sering ia lakukan.

Selesai waktu sholat isya, suamiku pun belum balik ke rumah. Ku tunggu sampai jam 10 malam, mau aku sms tapi ku batalkan karena hp suamiku tertinggal dirumah. Apakah ia marah?, Apakah ia kesal karena kebawelanku yang menyuruhnya untuk menikah lagi?. Perasaan sedih berkecamuk. Jujur, aku ikhlas, Bi. Apakah ia telah menyalah artikan maksud baikku?. Astagfirullah, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku sendiri?.

Sudah lewat jam 12 malam, aku masih sulit tertidur. Suamiku belum balik kerumah. Ya, sudah larut malam. Lampu kamar ku matikan. Sebelum mengejapkan mata, batinku pun memohon. Ma’afkan aku, Bi, aku sangat sayang pada Abi.

Tanpa sepatah katapun pembicaraan tentang rencana pernikahan itu. Paginya, suamiku pamit untuk pergi ke Balik Papan, mungkin minggu depan baru kembali. Aku mencium lengan suamiku, lalu pipinya kemudian diikuti oleh kedua anak kami mencium lengan Abinya.

Pagi ini terasa sepi sekali. Bukan karena Abi tidak di rumah. Tapi karena dari semalam sampai tadi pagi sebelum berangkat, Abi begitu dingin. Tak ada canda atau cerita seperti biasanya. Selesai mengantar anak-anak ke sekolah. Aku cuma bermalas-malas di kamar. Mau masak atau mengerjakan pekerjaan rumah, rasa nya segan sekali. Mungkin dengan menyalakan TV, hatiku akan sedikit terhibur. Aku pun bangkit ke arah TV. Mataku tertuju pada sebuah kotak dan selembar surat yang ada di atas TV.

“Assalamu’alaik um. Ma’af, Mi… baru sempat Abi belikan kalung perak kesukaan Umi. Kalung perak yang sudah lama Umi inginkan. Kemarin waktu Abi ke Jogja, Abi sempatkan ke kota Gede, pusat pengrajin perak. Abi jadi ingat waktu kita baru menikah dulu Umi pernah bilang. “Gak usah, kalung emas, Bi. Mungkin mahal harganya, kalung perak juga gak apa-apa, Bi. Keindahannya tetap akan menambah kasih sayang Abi pada Umi… .

“Oh, iya masalah tawaran Umi agar Abi menikah lagi, itu bukanlah hal yang penting. Semalam Abi tahajud dan berharap agar rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah. Fokus kita sekarang adalah anak-anak, bagaimana agar kita bisa memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anak.
Ma’afkan Abi yang tidak punya banyak waktu buat Umi dan anak-anak. Hehehehe, mungkin sekarang saatnya Abi jadi Boss, punya asisten yang bisa dipercaya untuk menangani pekerjaan-peker jaan Abi di daerah. Sedikit demi sedikit nanti akan Abi lepas pekerjaan pada asisten itu. Sabar ya, butuh waktu untuk mewujudkan itu semua. Cinta dan sayang Abi hanya untuk Umi dan anak-anak, anugerah terindah yang Allah berikan…

Tanpa terasa, aku menitikkan air mata. Air mata kasih sayang. Ku baca surat dari suamiku sampai selesai. Setelah itu, aku buka kotak perhiasan.

Aih, kalung perak yang indah. Dengan liontin berbentuk dua hati yang saling berkait.

Selamat bekerja suamiku, selamat berjuang mencari nafkah demi keluarga. Semoga Allah memberikan pahala yang setimpal untuk Abi, pahlawanku tercinta

0 komentar:

Posting Komentar

 

bLoG 'na AyaX Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review